PENTINGNYA REHABILITASI MANGROVE
Mangrove merupakan salah satu hutan
tropis yang dapat ditemukan di daerah pasang surut dan didominasi oleh
pepohonan dan semak belukar. Mereka adalah satu ekosistem yang penting dan
produktif di daerah pesisir. Hutan mangrove menawarkan jasa lingkungan seperti
penyerapan karbon, perlindungan pantai dari erosi dan intrusi air laut, tempat
bertelur dan berkembang bagi beberapa hewan laut. (Malik,
A., & Djalil, A. R. 2021)
Hutan mangrove merupakan tumbuhan
yang berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim dengan berperan sebagai
penyerap karbon. Mangrove merupakan salah satu hutan kaya karbon yang paling
signifikan di daerah tropis dan menyumbang sekitar setengah dari total emisi
karbon biru dari ekosistem pesisir (Malik, A., Jalil, A. R., Arifuddin, A., & Syahmuddin, A., 2020). Mangrove menyimpan karbon dalam biomassa di atas
permukaan tanah melalui proses fotosintesis dan juga didalam tanah melalui
proses sedimentasi. Meskipun tanaman ini hanya menempati sebagian kecil dari
wilayah dunia, hutan ini menyimpan begitu banyak karbon.
Peran mangrove yang begitu besar
dalam kepentingan keberlangsungan kehidupan baik didaerah pesisir maupun
terhadap kondisi karbon yang ada merupakan alasan yang sangat jelas bagaimana
kita harus melakukan rehabilitasi terhadap mangrove yang mulai berkurang tahun
demi tahun. Tercatat deforestasi luasan mangrove didunia menjadi lebih rendah
selama tahun 2000. Bukan lain alasan dari deforestasi ini adalah ulah manusia
sendiri. Eksploitasi berlebihan untuk berbagai tujuan seperti penebangan
komersial, kayu bakar, arang, dan berbagai konvensi ke penggunaan lahan lain,
primer menjadi kolam akuakultur, dipercaya sebagai pendorong hilangnya mangrove
(Malik, A., Jalil, A. R., Arifuddin, A., &
Syahmuddin, A., 2020).
Rehabilitasi merupakan salah satu
jalan untuk mempertahankan keberlangsungan hidup mangrove. Sudah banyak program
rehabilitasi dan perlindungan yang dilaksanakan di Indonesia dan asia tenggara
yang merupakan daerah dengan penurunan mangrove terbesar didunia ini. Namun,
penyebab hilangnya hutan mangrove belum diatasi secara efektif sehingga setiap
diberlakukan rehabilitasi, disisi lain juga peyebab kerusakan masih terus
berlanjut. Selain itu tidak semua rehabilitasi berhasil, penyebab umumnya
adalah penanaman bibit mangrove didaerah yang salah (Jalil, A., Malik, A.,
Nurdin, N., Saru, A., & Yunus, I 2020). Terkadang lokasi pertumbuhan tidak
diperhatikan karena sulitnya untuk mengukur kecocokan kondisi .
Tingkat kelangsungan hidup
rehabilitasi mangrove yang rendah pun telah terjadi karena kegagalan dalam
pemilihan lokasi dan spesies dalam program dimana parameter ini tidak
dikembangkan. Toleransi fisiologis terhadap genangan air pasang juga tidak
diperhatikan. Dibutuhkan penilaian tentang tingkat air laut, rezim genangan,
dan evaluasi substrat mangrove di lokasi penelitian agar rehabilitasi dapat
berhasil dan dapat bertahan lama. Singkatnya, kondisi lingkungan menentukan
tanaman mana yang cocok untuk tumbuh dilingkungan tersebut, baik itu mangrove
maupun tumbuhan lain.
Bagaimanapun sulitnya melakukan
praktik, rehabilitasi tetap membutuhkan uji coba dan penelitian terlebih dahulu
utuk mengetahui jenis yang cocok untuk dilakukannya rehabilitasi disuatu lokasi.
Rehabilitasi ini merupakan hal yang mulia untuk memperbaiki kembali lingkungan
yang tanpa sadar telah kita rusak sendiri. Besarnya peran mangrove bagi
keberlangsungan kehidupan manusia dan berbagai biota laut merupakan alasan yang
sangat jelas mengapa rehabiltasi harus dilakukan. Selain itu sebagai manusia
yang menjadi penyebab utama kerusakan alam, kita mestinya mampu menghentikan
kebiasaan buruk yang dapat merusak lingkungan. Karena sebenarnya rehabilitasi
tidak berguna jika penyebab kerusakan belum dihentikan.
DAFTAR PUSTAKA
Jalil, A., Malik, A., Nurdin, N., Saru, A., & Yunus, I. 2020. Assessment
Of Seawater Level, Inundation Duration And Substrate Elevation For Mangrove
Rehabilitation Program In The Spermonde Archpelago South Sulawesi Indonesia. International Journal of Conservation
Science, 2020, 11(4).
Malik, A., Jalil, A. R., Arifuddin, A., &
Syahmuddin, A. (2020). Biomass Carbon Stocks In The Mangrove Rehabilitated Area
Of Sinjai District, South Sulawesi, Indonesia. Geography, Environment, Sustainability, 13(3), 32-38.
Malik, A., & Djalil, A. R. (2021,
February). Mangrove Changes in Pannikiang Island Barru Regency South Sulawesi.
In Journal of Physics: Conference Series (Vol. 1752, No. 1, p. 012088). IOP
Publishing.
Komentar
Posting Komentar